Ketika Kematian Tak Cukup Alasan untuk Berhenti

MERATA.ID

Kematian itu datang tanpa aba-aba, di tengah perjalanan yang semula dirancang untuk bersenang-senang. Di atas kapal penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni, Kamis (15/1/2026), seorang guru, kepala sekolah, dan ibu bagi ratusan muridnya, menghembuskan napas terakhirnya. Namanya Erdaningsih, M.Pd., Kepala SD Negeri 1 Sumber Rejo.

Ia terjatuh di tangga kapal. Upaya pertolongan dilakukan. Waktu berpacu dengan kepanikan, namun takdir lebih cepat. Dari geladak kapal hingga ruang rumah sakit di Kalianda, hidupnya berakhir di antara riuh mesin, klakson kendaraan, dan langkah-langkah orang yang tetap melanjutkan perjalanan.

Dan perjalanan itu memang tidak berhenti.
Kematian Erdaningsih tidak menjadi tanda untuk berhenti sejenak. Tidak menjadi alasan untuk membatalkan agenda. Tidak pula cukup untuk menghentikan roda bus-bus wisata yang telah berbaris rapi menuju Pulau Jawa. Jawa Barat tetap menjadi tujuan, meski satu nama kini tak lagi ikut dalam daftar peserta.

Satu kursi menjadi kosong. Tapi agenda tetap penuh.

Di satu sisi, keluarga bersiap menyambut jenazah. Air mata mengalir di rumah duka, doa dipanjatkan, dan kabar kematian menyebar dari mulut ke mulut.

Di sisi lain, perjalanan terus melaju, melewati jalan panjang, meninggalkan Bakauheni yang menyimpan peristiwa paling sunyi hari itu.

Tidak ada sirene yang memerintahkan berhenti. Tidak ada keheningan kolektif yang memaksa semua orang menunduk. Yang ada hanyalah keputusan bahwa perjalanan harus diteruskan.

Di situlah ironi itu berdiri tegak.
Kematian bukan lagi akhir, melainkan gangguan kecil dalam jadwal. Duka tak cukup kuat untuk mengalahkan agenda. Empati kalah cepat dari rencana yang telah disusun jauh hari.

Erdaningsih bukan sekadar peserta wisata. Ia adalah pendidik. Seorang kepala sekolah yang sehari-hari mengajarkan nilai, etika, dan kemanusiaan. Ironisnya, kepergiannya justru mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai itu benar-benar hidup di luar ruang kelas.

Perjalanan wisata ini diberangkatkan dengan sepuluh bus dan dilepas secara resmi. Semua tampak sah, tertib, dan terencana.

Namun ketika kematian hadir di tengah jalan, sistem tak memberi ruang untuk berhenti dan bertanya: apakah kita masih manusia jika tetap melaju tanpa menoleh ke belakang?

Publik kemudian gelisah. Bukan semata karena ada yang meninggal, tetapi karena bagaimana kematian itu diperlakukan. Karena pilihan untuk tetap berjalan seolah mengirim pesan pahit: bahwa satu nyawa bisa ditinggalkan demi menjaga agenda tetap utuh.

Di Bakauheni, kapal terus berlayar. Di jalanan Jawa, bus-bus wisata terus bergerak. Sementara di rumah duka, waktu seakan berhenti membeku dalam kehilangan yang tak tergantikan.

Ini bukan tentang menunjuk siapa yang salah. Ini tentang momen ketika kematian hadir, namun tidak cukup kuat untuk menghentikan langkah bersama. Tentang saat di mana perjalanan lebih penting daripada perasaan.

Dan tentang sebuah pertanyaan yang tertinggal di sepanjang jalan:
jika kematian saja tak cukup alasan untuk berhenti, lalu apa yang masih kita anggap berharga?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *