DEPOK – Polres Metro Depok memberikan bantuan kepada Suderajat, pedagang es kue jadul yang sempat viral setelah dituduh menjual es berbahan spons saat berjualan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Bantuan tersebut diserahkan langsung dalam kunjungan ke kediaman Suderajat yang dipimpin Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras, Selasa (27/1/2026).
Kapolres Metro Depok menjelaskan, meski secara administrasi kependudukan Suderajat tercatat sebagai warga Kabupaten Bogor, secara hukum kepolisian yang bersangkutan berada dalam wilayah hukum Polres Metro Depok. Oleh karena itu, kepolisian merasa berkewajiban memberikan perlindungan dan pendampingan.
“Hari ini kami hadir dari Polres Metro Depok. Memang secara administrasi kependudukan beliau masuk wilayah Kabupaten Bogor, tetapi secara administrasi kepolisian dan hukum, beliau masuk wilayah hukum kami,” ujar Abdul Waras.
Dalam kesempatan tersebut, Polres Metro Depok menyerahkan bantuan berupa satu unit sepeda motor dan modal usaha.
Bantuan itu diharapkan dapat membantu Suderajat kembali berjualan setelah aktivitas usahanya terhenti akibat peristiwa yang menimpanya.
“Kami memberikan motor dan sedikit modal usaha. Mudah-mudahan ini bisa bermanfaat untuk usaha beliau ke depan,” kata Abdul Waras.
Terkait koordinasi lintas wilayah, Kapolres menyebut hingga saat ini belum ada komunikasi khusus dengan Polres Metro Jakarta Pusat.
Menurutnya, fokus Polres Metro Depok adalah menjalankan tanggung jawab hukum terhadap warga yang berada di wilayah mereka.
“Kalau untuk yang lain-lain nanti dari Polres Jakarta Pusat,” ucapnya.
Sementara itu, Suderajat mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Namun demikian, ia mengungkapkan masih merasa takut untuk kembali berjualan akibat trauma yang dialaminya setelah tuduhan tersebut mencuat.
Menanggapi hal itu, pihak kepolisian memastikan keamanan Suderajat menjadi perhatian mereka. Seorang perwira polisi di lokasi menyatakan bahwa Suderajat telah mendapat jaminan perlindungan. Pernyataan tersebut ditegaskan kembali oleh Kapolres.
“Kan enggak ada racunnya, Pak,” ujar Abdul Waras.
Meski demikian, Suderajat mengaku masih cemas terhadap stigma yang mungkin muncul di lingkungan sekitar, khususnya dari anak-anak.
“Takutnya diincer, takut dibilang es racun. Bocah-bocah kan begitu,” katanya. (Nca)







