LAMPUNG SELATAN, MERATA.ID – Peternak ayam petelur di Lampung kembali menghadapi tekanan akibat tingginya biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual telur di pasaran.
Harga pakan ayam saat ini mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram, sementara harga telur justru turun di bawah harga acuan sebesar Rp24.000 per kilogram yang ditetapkan melalui posko bersama asosiasi peternak dan Dinas Perdagangan.
Kondisi tersebut dirasakan peternak ayam petelur di Desa Krawangsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Adi (38). Menurutnya, penurunan harga telur di tengah kenaikan biaya produksi semakin mempersempit margin keuntungan peternak.
“Kalau pakan naik sebenarnya masih bisa ditahan kalau harga telur ikut stabil. Tapi sekarang justru turun,” kata Adi, Minggu (21/6/2026).
Ia menjelaskan, melemahnya permintaan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan stok telur menumpuk di kandang. Penurunan konsumsi terjadi seiring libur sekolah yang berdampak pada berkurangnya kebutuhan telur, termasuk untuk Program Makan Bergizi (MBG).
Selain itu, faktor musiman seperti masuknya bulan Suro turut memengaruhi permintaan pasar karena aktivitas hajatan masyarakat cenderung menurun.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah peternak terpaksa menjual telur di bawah harga acuan untuk mengurangi penumpukan stok. Pasalnya, telur memiliki masa simpan terbatas sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama.
“Karena takut tidak laku, banyak yang terpaksa jual di bawah harga standar,” ujarnya.
Tidak hanya menghadapi tekanan harga, peternak juga mengalami penurunan produktivitas ayam akibat cuaca yang tidak menentu. Perubahan suhu membuat ayam lebih rentan terserang penyakit sehingga produksi telur menurun.
Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya Feed Conversion Ratio (FCR) atau rasio penggunaan pakan terhadap produksi telur. Dalam kondisi normal, FCR berada di kisaran 1:2,2, namun saat ini meningkat menjadi sekitar 1:3.
Peningkatan FCR menunjukkan kebutuhan pakan yang lebih besar untuk menghasilkan jumlah telur yang sama, sehingga biaya produksi peternak semakin meningkat.
Selain pakan, peternak juga harus menanggung biaya operasional lainnya seperti obat-obatan, listrik, tenaga kerja, dan pemeliharaan kandang.
“Kalau kondisi ini terus berlanjut, banyak peternak bisa gulung tikar,” kata Adi.
Tekanan serupa disebut juga dirasakan peternak ayam pedaging dan pedagang pasar di sejumlah wilayah. Sebagian peternak mulai mengurangi populasi ternak untuk menekan biaya pakan, sementara lainnya terpaksa menjual aset pribadi guna mempertahankan usaha.
Para peternak berharap pemerintah dapat memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan harga acuan telur di lapangan serta mengambil langkah intervensi untuk menjaga stabilitas harga dan keberlangsungan usaha peternakan rakyat. (Nca)











