BANDAR LAMPUNG, MERATA.ID — Tingginya angka temuan kasus HIV di Kota Bandar Lampung dalam beberapa waktu terakhir bukan menandakan terjadinya wabah baru. Sebaliknya, hal tersebut mencerminkan keberhasilan Dinas Kesehatan (Diskes) dalam membongkar fenomena gunung es penyakit menular yang selama ini tersembunyi di tengah masyarakat.
Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Diskes menerapkan strategi jemput bola dengan turun langsung ke berbagai lokus berisiko. Langkah ini berdampak signifikan, dengan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) penapisan HIV melampaui target hingga lebih dari 119 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menegaskan bahwa tingginya angka temuan justru menunjukkan efektivitas pelacakan kasus.
“Jika capaian sudah di atas 100 persen, artinya mitigasi risiko keberlanjutan penyebaran sudah kita tangani. Ini bukan darurat, melainkan bukti keseriusan kita memutus mata rantai penularan menuju target Eliminasi HIV 2030,” tegasnya.
Dalam pelaksanaannya, Diskes memfokuskan screening pada delapan kelompok indikator SPM, yakni ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), penderita Infeksi Menular Seksual (IMS), Wanita Pekerja Seksual (WPS), Lelaki Seks Lelaki (LSL), waria, pengguna narkoba suntik (Penasun), serta warga binaan pemasyarakatan.
Terkait temuan reaktif, termasuk 227 kasus pada kelompok LSL, dr. Liskha menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil kerja aktif petugas di lapangan. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pasien memperoleh akses pengobatan sehingga potensi penularan dapat ditekan.
Khusus ibu hamil, Diskes menerapkan program Triple Eliminasi secara gratis, yang mewajibkan screening HIV, sifilis, dan hepatitis untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi.
Untuk layanan pengobatan, sebanyak 31 puskesmas di Kota Bandar Lampung telah menyediakan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP). Diskes juga mengadopsi strategi Fast Track 95-95-95, yakni 95 persen Orang Dengan HIV (ODHIV) terdiagnosis, 95 persen mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV), dan 95 persen mencapai supresi virus.
“Pasien yang rutin minum obat sesuai dosis dapat menekan jumlah virus dalam tubuhnya. Dengan kondisi tersupresi, virus tidak lagi mudah menular dan harapan hidup tetap panjang serta produktif,” jelasnya.
Dalam menjangkau lokus khusus seperti tempat hiburan malam, Diskes menggandeng lintas sektor, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Sosial, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga komunitas Indonesia AIDS Coalition (IAC). Pemkot Bandar Lampung juga menjamin kerahasiaan identitas pasien secara by name by address.
Diskes mengimbau masyarakat tidak terpengaruh hoaks. HIV tidak menular melalui pelukan, sentuhan, berbagi alat makan, percakapan, maupun penggunaan toilet umum.
“Penularan hanya terjadi melalui kontak darah, hubungan seksual tidak aman, serta dari ibu positif ke anak yang dikandungnya,” tandasnya. (*)











