Janji Tinggal Janji? Warga Permata Asri Tagih Aksi Bupati Atasi Krisis Air Bersih

Lampung Selatan, MERATA.ID – Krisis air bersih yang telah bertahun-tahun dialami warga Perumahan Permata Asri, Desa Karang Anyar, Kabupaten Lampung Selatan, hingga kini belum juga menemukan solusi nyata.

Lebih dari 2.500 kepala keluarga di kawasan tersebut masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar air bersih di tengah layanan yang dinilai tidak layak.

Padahal, upaya penyampaian aspirasi telah dilakukan warga sejak awal 2024. Melalui dua kepala dusun setempat, Ganda Sufajar (Kepala Dusun Permata Asri) dan Isdi Mulia Julkarmen (Kepala Dusun Karangmas), bersama Kepala Desa Karang Anyar, warga telah mengirimkan surat resmi kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dengan Nomor: 015/002/2024/DPA-DKM/SK-P terkait permohonan bantuan pengadaan sarana air bersih PDAM.

Aspirasi tersebut juga diperkuat oleh dukungan Anggota DPRD Lampung Selatan, Rosdiana.

Dalam proses pencarian solusi, perwakilan warga bahkan telah berkoordinasi langsung dengan PDAM Way Rilau.

Pihak PDAM menyatakan siap menyalurkan air bersih ke Permata Asri karena memiliki surplus debit air. Secara teknis, distribusi dapat dilakukan melalui jalur dari wilayah Fajar Baru dengan jarak sekitar 7 kilometer.

Namun rencana tersebut tak dapat direalisasikan tanpa persetujuan dan dukungan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sebagai pemilik kewenangan wilayah.

Harapan warga sempat muncul ketika pada Juli 2025 lalu Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyatakan akan mengkaji persoalan tersebut dan mengupayakan peninjauan langsung ke lokasi. Pernyataan itu disampaikan saat mendampingi kunjungan kerja Kapolri di Mapolda Lampung.

Sayangnya, hingga memasuki Maret 2026, warga mengaku belum melihat adanya langkah nyata dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Sementara itu, kondisi di lapangan masih jauh dari kata layak. Sebagian warga hanya menerima aliran air dua hari sekali dengan durasi yang sangat singkat dan debit yang sangat kecil.

Bahkan di beberapa titik jaringan pipa, air tidak mengalir sama sekali dan hanya mengeluarkan angin, meskipun tagihan tetap berjalan.

Kondisi ini memaksa sebagian warga memutus sambungan karena dianggap tidak lagi memberi manfaat.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak warga akhirnya bergantung pada air dari mobil tangki dengan harga sekitar Rp60.000 per tangki, yang hanya cukup untuk kebutuhan dua hari satu keluarga.

Situasi ini dinilai sangat membebani masyarakat, terlebih air bersih merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditunda.
Warga pun kini mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam menangani persoalan tersebut.

Janji Bupati Lampung Selatan untuk meninjau lokasi dan mengkaji solusi yang disampaikan pada Juli 2025 lalu hingga kini belum juga terealisasi.

“Sudah bertahun-tahun kami mengalami kesulitan air bersih. Kami sudah menyurati pemerintah, sudah menyampaikan aspirasi, bahkan sudah ada pernyataan dari Bupati. Tapi sampai sekarang belum ada langkah nyata,” ujar salah satu warga.

Masyarakat menegaskan mereka tidak menuntut hal berlebihan. Mereka hanya meminta hak dasar sebagai warga negara: akses air bersih yang layak, lancar, dan adil.

Kini, warga Permata Asri menunggu apakah janji tersebut benar-benar akan diwujudkan, atau kembali menjadi sekadar pernyataan tanpa tindak lanjut di tengah penderitaan masyarakat yang terus berlanjut. (MRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *