Bandarlampung, MERATA.ID – Tragedi kembali terjadi di Kota Bandar Lampung. Seorang anak bernama Dafi (12) ditemukan meninggal dunia setelah dilaporkan tenggelam di Sungai Kali Balok, Kelurahan Garuntang, Selasa (10/3).
Peristiwa itu bermula ketika korban bersama tiga temannya berenang di sungai sekitar pukul 11.00 WIB. Namun beberapa jam kemudian korban diduga mengalami kelelahan hingga akhirnya tenggelam.
Tim SAR gabungan yang menerima laporan segera melakukan pencarian dan akhirnya menemukan korban sekitar pukul 16.45 WIB, sekitar 250 meter dari titik awal kejadian. Jenazah korban kemudian dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat.
Meski insiden yang menimpa Dafi bukan bagian langsung dari peristiwa banjir, tragedi di sungai tersebut kembali mengingatkan publik pada rentetan peristiwa banjir yang merenggut nyawa warga dalam dua tahun terakhir.
Sepanjang tahun 2025, banjir yang beberapa kali melanda Bandar Lampung memicu gelombang perhatian publik. Saat itu, tagar “Pray for Bandar Lampung” ramai beredar di media sosial setelah sejumlah wilayah kota terendam banjir cukup parah. Genangan air tidak hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa.
Dalam berbagai kejadian banjir sepanjang tahun tersebut, tujuh warga dilaporkan meninggal dunia. Sebagian korban terseret arus banjir yang datang tiba-tiba, sementara kasus lain terjadi akibat bahaya listrik ketika genangan air masuk ke permukiman warga.
Gelombang simpati publik pada saat itu seharusnya menjadi peringatan keras bahwa persoalan drainase, tata kelola sungai, serta pengendalian kawasan resapan air di Bandar Lampung membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
Namun memasuki tahun 2026, banjir kembali terjadi setelah hujan deras mengguyur kota pada awal Maret. Air yang meluap dari sungai dan drainase kembali merendam puluhan titik permukiman.
Dalam kejadian tersebut, dua warga dilaporkan meninggal dunia setelah diduga terseret arus banjir. Salah satu korban merupakan seorang anak yang hanyut di wilayah Rajabasa, sementara korban lainnya ditemukan di aliran sungai di kawasan Tanjungkarang Timur.
Jika dihitung secara keseluruhan, sembilan warga kehilangan nyawa akibat banjir di Bandar Lampung dalam dua tahun terakhir.
Di tengah kembali terjadinya banjir, perhatian publik juga tertuju pada langkah pemerintah kota yang belakangan terlihat melakukan penanganan drainase di sejumlah titik rawan genangan.
Salah satunya di kawasan sekitar kampus Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi yang kerap tergenang ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kota.
Aktivitas penanganan drainase tersebut bahkan sempat terlihat dalam unggahan akun TikTok milik Eva Dwiana, Wali Kota Bandar Lampung. Dalam video tersebut, terlihat upaya pembersihan dan penanganan saluran air di kawasan yang selama ini dikenal sebagai titik langganan genangan.
Namun muncul pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa langkah penanganan terlihat gencar setelah banjir kembali terjadi, bahkan setelah peristiwa tersebut menelan korban jiwa?
Pertanyaan lain yang juga muncul adalah apakah upaya tersebut benar-benar merupakan langkah penanganan serius yang berkelanjutan, atau hanya sekadar respons sesaat yang kemudian ditampilkan di media sosial.
Apalagi, kawasan sekitar kampus UIN Raden Intan Lampung telah lama dikenal sebagai titik yang kerap tergenang saat hujan deras. Kondisi tersebut bukanlah persoalan baru yang muncul tiba-tiba pada tahun ini.
Rangkaian peristiwa dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa banjir di Bandar Lampung bukan lagi sekadar bencana musiman. Ia telah menjadi persoalan struktural yang berkaitan dengan kondisi drainase kota, tata kelola sungai, serta penataan kawasan yang terus berkembang.
Ketika setiap musim hujan datang, warga tidak hanya khawatir rumah mereka terendam. Mereka juga dihadapkan pada risiko yang lebih besar arus air yang bisa berubah menjadi ancaman keselamatan.
Dan selama persoalan tersebut belum ditangani secara menyeluruh, tragedi demi tragedi dikhawatirkan akan terus berulang, sementara masyarakat hanya bisa kembali menyaksikan satu hal yang sama di media sosial: tagar “Pray for Bandar Lampung.” (Red)












