Bandarlampung, MERATA.ID – Upaya memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal kembali ditegaskan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pengolahan pisang yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Ballroom Golden Tulip, Bandar Lampung, Sabtu (18/04/26).
Mengusung tema “Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat”, kegiatan ini menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas pisang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Kegiatan ini juga sejalan dengan peran DPR RI Komisi X yang membidangi pendidikan, riset, olahraga, dan kebudayaan, dengan fokus pengawasan pada peningkatan kualitas pendidikan, penguatan kepemudaan, serta pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi lokal.
Anggota DPR RI, Muhammad Kadafi, menegaskan bahwa Lampung memiliki keunggulan besar dari sisi ketersediaan bahan baku pisang.
Selama ini, daerah tersebut telah dikenal luas melalui produk olahan seperti keripik pisang dan pai pisang.
Namun, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya dimaksimalkan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Pisang bukan hanya komoditas konsumsi, tetapi juga peluang ekonomi. Jika diolah dengan baik, produk turunannya mampu menembus pasar yang lebih luas sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru,” ujarnya.
Senada dengan itu, narasumber BRIN, Yeyen Prasetyaning Wanita, menjelaskan bahwa Provinsi Lampung memiliki posisi strategis sebagai salah satu sentra produksi pisang nasional, bahkan disebut sebagai penghasil terbesar kedua di Indonesia.
Keunggulan tersebut diperkuat oleh rantai distribusi, kekuatan pasar, serta branding Lampung sebagai daerah penghasil oleh-oleh berbasis pisang.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan utama dalam pengelolaan pisang segar, yakni masa simpan yang pendek dan mudah mengalami penurunan kualitas.
Oleh karena itu, pendekatan inovasi menjadi kunci untuk menjaga nilai guna dan meningkatkan daya saing produk.
“Solusinya adalah pengolahan. Dengan memperhatikan jenis pisang, tingkat kematangan, hingga preferensi rasa konsumen, kita bisa menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi,” jelasnya.
Beragam inovasi olahan pun diperkenalkan, mulai dari keripik, bolu, hingga tepung pisang yang memiliki manfaat strategis sebagai bahan pangan alternatif, termasuk untuk pencegahan stunting.
Selain itu, konsep pengembangan usaha berbasis gaya hidup juga mulai dilirik, seperti menghadirkan produk olahan pisang di tempat nongkrong dengan target pasar anak muda.
Melalui kegiatan ini, BRIN dan DPR RI tidak hanya mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengolah hasil pertanian, tetapi juga memperkuat ekosistem inovasi di daerah.
Harapannya, komoditas pisang tidak lagi sekadar menjadi hasil panen, melainkan mampu bertransformasi menjadi produk unggulan yang berdaya saing tinggi di pasar lokal maupun nasional. (MRA)








