Bandarlampung, MERATA.ID – Upaya mengubah wajah persoalan sampah dari ancaman menjadi peluang terus didorong oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama DPR RI melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pemanfaatan sampah plastik sebagai sumber energi yang digelar di Graha Bintang Universitas Malahayati, Bandar Lampung, Sabtu (18/4/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Anggota DPR RI, Muhammad Kadafi menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini sudah berada pada level yang mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan serius serta kolaboratif.
Ia juga menambahkan bahwa peran Komisi X DPR RI sangat strategis, mengingat komisi tersebut membidangi pendidikan, riset, olahraga, dan kebudayaan, dengan fokus pengawasan pada peningkatan kualitas pendidikan, penguatan kepemudaan, serta pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi lokal.
Menurutnya, pengolahan sampah yang dilakukan secara cerdas tidak hanya mampu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka potensi sebagai sumber energi baru yang bernilai ekonomi.
“Pengolahan sampah bukan sekadar soal kebersihan, tetapi bagaimana kita bisa menghadirkan solusi berkelanjutan yang berdampak positif bagi lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi ilmiah, narasumber dari BRIN, Sarkiwan Aditya memaparkan bahwa volume sampah di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya.
Bahkan, sekitar 55–65 persen sampah berasal dari rumah tangga, dengan mayoritas belum dipilah, sehingga menghambat proses daur ulang.
Komposisinya didominasi oleh biomasa potensial seperti sampah organik (hingga 65 persen), plastik (15–20 persen), dan kertas (8–10 persen). Kondisi ini menunjukkan potensi besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Di Provinsi Lampung sendiri, timbulan sampah mencapai sekitar 800 ton per hari.
Namun demikian, persoalan mendasar masih terletak pada pola pengelolaan yang menggunakan paradigma lama, yakni kumpul–angkut–buang. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih menjadi tumpuan utama, bukan sebagai pusat pengolahan yang produktif.
Akibatnya, muncul berbagai dampak lingkungan, mulai dari pencemaran udara, tanah, dan air, hingga ancaman longsor dan kebakaran. Secara global, persoalan ini turut berkontribusi pada emisi gas rumah kaca, bahkan diperkirakan pada tahun 2050 jumlah mikroplastik di laut bisa melampaui jumlah plankton.
Melalui kegiatan ini, BRIN mendorong transformasi menuju ekonomi sirkular sebagai solusi jangka panjang. Pendekatan ini menekankan pengelolaan sampah secara sistematis, menyeluruh, dan berkelanjutan, dimulai dari pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), hingga daur ulang (recycle), sebelum akhirnya dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Transformasi tersebut mencakup pengolahan sampah menjadi kompos, Refuse Derived Fuel (RDF), briket arang, biofuel, hingga energi listrik.
Dengan langkah ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna tinggi.
Kegiatan Bimtek ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai pengguna hasil riset dan inovasi.
Harapannya, kesadaran dan partisipasi publik dalam pengelolaan sampah dapat meningkat, sekaligus mendorong lahirnya solusi nyata berbasis inovasi di daerah.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat, Lampung diharapkan mampu menjadi contoh dalam mengelola sampah secara berkelanjutan mengubah krisis menjadi peluang, dan limbah menjadi energi masa depan. (MRA)












