Bandarlampung, MERATA.ID – Semangat menghadirkan solusi bagi dunia pendidikan mengantarkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) meraih prestasi tingkat nasional.
Melalui gagasan inovatif tentang pemerataan pendidikan, tim mahasiswa PGSD Unila berhasil meraih Gold Medal Subtema Pendidikan pada ajang Pekan Essay Nasional (PENA) 2 yang berlangsung di Universitas Dhyana Pura (Undhira), Bali.
Prestasi tersebut diraih oleh Hendri Pratama bersama rekan satu timnya, Perkasa Dinanti Akbar, Savira Aulia Putri, Feby Ayu Maharani, dan Rahmah Dwi Asri.
Mereka sukses memikat dewan juri melalui karya esai yang menawarkan solusi terhadap persoalan ketimpangan akses pendidikan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Bagi tim, tema pemerataan pendidikan bukan sekadar topik kompetisi. Isu tersebut lahir dari realitas yang mereka temui di lapangan sebagai mahasiswa calon pendidik.
Melalui serangkaian observasi di sejumlah sekolah di Kota Metro dan kawasan sekitar Kampus PGSD Unila, mereka menemukan masih adanya tantangan dalam pemenuhan kebutuhan belajar siswa, mulai dari keterbatasan sumber belajar hingga minimnya media pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan sebuah prototipe aplikasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu guru dan peserta didik dalam mengakses materi pembelajaran secara lebih efektif. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam mendukung pemerataan kualitas pendidikan, khususnya di tingkat sekolah dasar.
“Kami ingin menghadirkan gagasan yang tidak berhenti sebagai karya tulis. Harapannya, inovasi yang kami tawarkan dapat memberikan manfaat nyata dan menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai tantangan pendidikan yang masih terjadi,” ujar Hendri.
Perjalanan menuju podium juara tidak dilalui dengan mudah. Tim harus melewati berbagai tahapan, mulai dari penyusunan konsep, pengumpulan data lapangan, penyusunan esai, hingga presentasi di hadapan dewan juri pada babak final nasional. Persaingan yang ketat dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menjadi tantangan tersendiri.
Namun, kerja keras dan kolaborasi yang dibangun selama proses kompetisi akhirnya membuahkan hasil manis. Tim PGSD Unila berhasil membawa pulang medali emas dan mengukuhkan diri sebagai salah satu tim terbaik dalam kategori pendidikan.
Tak berhenti pada capaian prestasi, tim juga berkomitmen mengembangkan inovasi yang telah dirancang. Saat ini, mereka tengah mengusulkan program lanjutan melalui skema Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) agar produk yang dikembangkan dapat terus disempurnakan dan diterapkan secara lebih luas.
Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta didik di perguruan tinggi, tetapi juga agen perubahan yang mampu melahirkan gagasan inovatif untuk menjawab berbagai persoalan sosial, termasuk di bidang pendidikan.
Melalui prestasi ini, Hendri berharap semakin banyak mahasiswa yang berani menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk karya ilmiah maupun inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
“Jangan takut memulai. Setiap prestasi berawal dari keberanian untuk mencoba, belajar, dan terus berkembang. Proses yang dijalani akan menjadi pengalaman berharga untuk menghasilkan karya yang bermanfaat,” pungkasnya. (*)














