LAMPUNG SELATAN, MERATA.ID – Persoalan air bersih di Perumahan Permata Asri, Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, belum juga menemukan titik penyelesaian.
Di tengah kewajiban pelanggan membayar tagihan sekitar Rp54 ribu per bulan, warga mengaku harus menghadapi pasokan air yang terbatas.
Air disebut hanya mengalir sekitar dua hari sekali, bahkan saat musim kemarau bisa menjadi tiga hari sekali dengan durasi singkat dan debit rendah.
Kondisi tersebut disebut telah berlangsung cukup lama dan berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari warga.
Mewakili warga, Kepala Dusun Permata Asri, Ganda Sufajar, mengatakan persoalan itu sebelumnya telah disampaikan secara resmi kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
“Warga di sini sudah terlalu lama mengalami kekurangan air, dan kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Kami mohon pemerintah segera menindaklanjuti dan bekerja sama dengan pihak terkait untuk mencari solusi terbaik,” ujar Ganda, Selasa (22/9/2026).
Menurut Ganda, persoalan tidak hanya terjadi pada rendahnya debit air. Sejumlah jaringan bahkan disebut tidak mengalirkan air sama sekali.
Pada kondisi tertentu, jaringan disebut hanya mengeluarkan angin, sementara tagihan pelanggan tetap berjalan.
Situasi tersebut membuat sebagian warga memilih memutus sambungan karena menilai layanan yang diterima tidak lagi sebanding dengan kebutuhan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga pun terpaksa membeli air menggunakan mobil tangki.
Harga air disebut sekitar Rp60 ribu per tangki dengan kapasitas kurang dari satu meter kubik. Jumlah tersebut, menurut warga, hanya cukup untuk kebutuhan sekitar dua hari.
“Pada prinsipnya warga siap membayar lebih apabila air yang disalurkan mencukupi kebutuhan dan layak digunakan. Air merupakan kebutuhan pokok,” kata Ganda.
Ada Alternatif dari PDAM Way Rilau
Upaya mencari solusi sebenarnya telah dilakukan warga. Perwakilan Perumahan Permata Asri disebut telah mendatangi pihak PDAM Way Rilau untuk membahas kemungkinan pemenuhan kebutuhan air.
Dalam komunikasi tersebut, pihak PDAM Way Rilau disebut menyatakan memiliki surplus debit air dan siap menyalurkan air ke kawasan Permata Asri.
Salah satu opsi yang dibahas adalah pembangunan jaringan distribusi dari wilayah Fajar Baru menuju Perumahan Permata Asri dengan jarak sekitar tujuh kilometer.
Namun, rencana tersebut disebut masih membutuhkan persetujuan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan sebagai otoritas wilayah.
Artinya, persoalan yang dihadapi warga bukan semata soal ketersediaan sumber air, tetapi juga bagaimana pemerintah daerah memfasilitasi solusi distribusi agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Diperjuangkan Sejak 2024
Persoalan air bersih di Perumahan Permata Asri bukan aspirasi yang baru disampaikan.
Ganda Sufajar bersama Isdi Mulia Julkarmen, yang saat itu menjabat Kepala Dusun Karangmas, telah mengajukan permohonan resmi kepada Bupati Lampung Selatan yang ketika itu dijabat Nanang Ermanto pada 2024.
Permohonan tersebut tertuang dalam surat Nomor 015/002/2024/DPA-DKM/SK-P dengan perihal Permohonan Bantuan Pengadaan Sarana Air Bersih PDAM.
Surat tersebut diketahui dan disahkan Kepala Desa Karang Anyar serta ditembuskan kepada PDAM Tirta Jasa Lampung Selatan dan PDAM Way Rilau.
Dorongan terhadap aspirasi warga juga datang dari anggota DPRD Lampung Selatan, Rosdiana, yang turut mendorong penyampaian keluhan masyarakat pada 2024 terkait minimnya debit air yang masuk ke kawasan perumahan.
Namun, hingga kini warga mengaku masih menunggu tindak lanjut konkret pemerintah daerah.
Menunggu Respons Bupati
Dengan jumlah penghuni yang disebut mencapai lebih dari 2.500 kepala keluarga, kebutuhan air di Perumahan Permata Asri semestinya membutuhkan perhitungan kapasitas dan proyeksi distribusi yang jelas.
Terlebih, terdapat alternatif pasokan dari PDAM Way Rilau yang disebut memiliki surplus debit air.
Jika belum ada penyelesaian, warga berencana kembali mengajukan permohonan kepada Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama agar persoalan pelayanan air bersih di kawasan tersebut mendapat penanganan.
Bagi warga, persoalannya sederhana, mereka membutuhkan kepastian bahwa pembayaran layanan air berbanding dengan ketersediaan air yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Harapan kami sederhana, air bersih yang layak dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Ganda. (Nca)






