AI Datang Terlambat atau Kita yang Baru Sadar Ketika Teknologi Mengaburkan Kenyataan

MERATA.ID

Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) belakangan ini menjadi buah bibir di Indonesia.

Ia hadir dalam bentuk gambar yang tampak nyata, video tokoh publik yang seolah berbicara padahal tak pernah terjadi, hingga suara yang mampu meniru manusia dengan presisi yang menggetarkan.

Di media sosial, batas antara fakta dan rekayasa kian tipis, bahkan nyaris lenyap.

Namun sebuah pertanyaan besar mengemuka: apakah AI benar-benar baru hadir di Indonesia, atau kita hanya terlambat menyadari bahwa teknologi ini sudah lama bekerja di sekitar kita?

Mesin yang Belajar dari Manusia

Secara sederhana, AI bekerja dengan cara mempelajari data dalam jumlah sangat besar. Gambar, video, suara, dan teks dikumpulkan, dianalisis, lalu dijadikan pola.

Dari pola itulah mesin belajar meniru manusia wajah, ekspresi, gaya bicara, hingga emosi.

AI tidak berpikir seperti manusia. Ia menghitung kemungkinan. Tetapi justru karena hitungan itu dilakukan dengan kecepatan dan ketepatan ekstrem, hasilnya kini sering kali tak bisa dibedakan dari kenyataan.

Ketika AI mampu menciptakan wajah yang tak pernah ada, atau video peristiwa yang tak pernah terjadi, manusia mulai kehilangan pegangan paling dasar: kepercayaan pada apa yang dilihat dan didengar.

AI Bukan Teknologi Baru

Di tingkat global, AI bukanlah penemuan abad ini. Istilah Artificial Intelligence pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956 dalam Dartmouth Conference di Amerika Serikat oleh John McCarthy, yang kemudian dikenal sebagai “Bapak AI”.

Jauh sebelumnya, Alan Turing telah menggagas pertanyaan mendasar: bisakah mesin berpikir seperti manusia? sebuah ide yang melahirkan Turing Test pada 1950.

Sejak itu, AI berkembang di laboratorium negara-negara maju, beriringan dengan kepentingan riset militer, industri, dan geopolitik. Selama puluhan tahun, teknologi ini matang jauh dari sorotan publik.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

AI di Indonesia: Hadir Tanpa Disadari

Di Indonesia, AI mulai masuk secara akademik sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an, terbatas di kampus dan riset ilmiah. Namun bagi masyarakat luas, AI tidak pernah diperkenalkan secara formal.

Ia datang diam-diam.

Sekitar 2016–2018, AI mulai bekerja melalui algoritma media sosial menentukan apa yang muncul di linimasa, video apa yang ditonton, dan informasi apa yang dipercaya.

Pada 2020–2022, AI hadir lewat pengenalan wajah, chatbot layanan publik, dan analisis data. Hingga akhirnya, 2023–2024, AI generatif meledak dan memperlihatkan wajah aslinya: mampu mencipta gambar, video, dan suara palsu yang nyaris sempurna.

Artinya, AI telah lama “berputar” di Indonesia sebelum masyarakat tahu namanya.

Negara Berkembang dan Keterkejutan Kolektif

Sebagai negara berkembang, Indonesia menghadapi AI dalam kondisi literasi digital yang belum merata. Teknologi datang lebih cepat daripada pemahaman. Regulasi tertinggal, sementara media sosial menjadi ruang bebas tanpa pagar verifikasi yang kuat.

Berbeda dengan negara maju yang telah menanamkan riset teknologi sejak puluhan tahun lalu, Indonesia lebih banyak menjadi pengguna bahkan objek dari produk teknologi global.

Di titik ini, muncul kecurigaan yang wajar: jangan-jangan, sebelum AI dikenal publik, manusia sudah lama diarahkan, dibentuk, bahkan dimanipulasi oleh teknologi yang tak pernah mereka pahami.

Dari Bulan hingga Linimasa

Pro dan kontra tentang pendaratan manusia di bulan kembali ramai di era AI. Jika kini gambar dan video bisa direkayasa dengan mudah, bagaimana publik memastikan keaslian peristiwa masa lalu yang hanya dikenali lewat rekaman visual?

Pertanyaan itu mungkin terdengar konspiratif. Namun AI telah mengubah satu hal mendasar: visual tidak lagi otomatis berarti bukti.

Yang dulu diyakini tanpa ragu, kini dipertanyakan. Bukan karena manusia semakin bodoh, melainkan karena teknologi semakin lihai menyamar sebagai kenyataan.

Senjata Sunyi di Dunia yang Bergejolak

Di tengah ketegangan geopolitik global dan bayang-bayang Perang Dunia Ketiga, AI bukan lagi sekadar alat hiburan atau produktivitas. Ia berpotensi menjadi senjata informasi paling sunyi menciptakan kebingungan, memecah opini publik, dan menggerakkan emosi massa tanpa satu pun peluru ditembakkan.

Dan pertanyaan paling menggelisahkan pun muncul: apakah masih ada teknologi lain yang belum kita ketahui, menunggu waktu untuk diperkenalkan saat dunia semakin genting?

Antara Kesadaran dan Kewaspadaan

AI bukan musuh. Ia adalah alat. Namun tanpa pemahaman dan literasi, alat itu bisa menjadi sarana pembodohan massal.

Tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan sekadar mengejar teknologi, melainkan membangun kesadaran kolektif agar masyarakat mampu bertanya, meragukan, dan memverifikasi.

Karena di era AI, bahaya terbesar bukan mesin yang semakin pintar, melainkan manusia yang berhenti berpikir kritis.

Dan mungkin, pertanyaan terpenting yang harus kita ajukan bukan lagi apa itu AI?

melainkan:

selama ini, siapa yang sebenarnya mengendalikan apa yang kita sebut sebagai kenyataan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *